Senin, 23 April 2012

belajar hidup ikhlas

sulit..
ya hidup memang sulit.. apalagi ketika hidup membutuhkan pilihan dan pengorbanan.
berawal dari adikku yang punya keinginan kuat buat jadi tentara, dan dia kepengen banget masuk Krida atau Taruna Nusantara setelah lulus SMP ini. tapi sebenarnya keuangan keluarga kecilku ini sedang berada di tingkat kekurangan. dan gak ada yang bisa bantu dalam jumlah banyak. aku dengar dari ibuku kalau saudara yang diminta untuk dipinjamkan uang bertindak seolah gak percaya dengan keadaan keluargaku. walaupun bukan aku yang mengalami secara langsung tindakan itu, tapi kalo lihat dari cara bicara ibuku sepertiya benar. sering kali mereka bertanya apakah warisan dari papa gak cukup. mereka sama sekali gak tau kalo papa itu gak ninggalin warisan apa-apa. papa aku pekerja keras. tapi beliau gak meninggalkan warisan sebanyak seperti yang mereka kira. pernah juga aku dengar mereka membandingkan keluarga kecilku dengan seorang nenek yang saat beberapa waktu lalu telah meninggal dunia. mereka bilang beliau bisa hidup dengan peninggalan suaminya, bisa membayar kontrakan dan makan banyak. hey, beliau sudah tidak menyekolahkan anaknya. sedangkan ibuku menyekolahkan aku dan adikku. dan kalian tahu seberapa mahal pendidikan saat ini. untuk membayar semesteran kemarin saja ibuku harus menjual kalungnya dan pinjam sisanya kepada temannya, saat itu aku sempat berfikir untuk berhenti kuliah hanya saja aku mengurungkan niatku untuk berbicara, karna aku tahu ibuku tak akan setuju aku berhenti kuliah, walaupun sebenarnya aku merasa tidak tega dia banting tulang sendirian. sampai pada akhirnya ibuku kembali berniat menjual mobil, hal yang sejak 4 tahun lalu berhasil aku pertahankan hingga saat ini. sebuah benda yang sangat memiliki kenangan penuh arti bagiku, karena didalam mobil itulah aku terakhir melihat ayahku bernafas. dan mobil itu juga salah satu benda kesayangan ayahku. aku ingat betapa bahagianya waktu ia memperlihatkan mobil barunya itu. dan kenangan semacam itu tak akan pernah bisa terbeli oleh apapun didunia ini, terlebih orang itu telah meninggal dunia. setiap kali aku dengar ibuku akan menjual mobil aku selalu menangis namun tidak dapat mencegahnya lebih lanjut. karena aku sendiri belum punya apa-apa untuk membantunya. dan aku berusaha mengiklaskan mobil itu setelah banyak pertimbangan, aku gak mau membuat ibuku bertambah pusing, dia harus mengebalikan uang temannya yang ia pinjam untuk membayar semesteran kuliah ku. dan mungkin beberapa pinjaman lain yang tidak aku ketahui.aku juga mencoba mengikhlaskannya karena aku juga tidak ingin mengecilkan hati adikku yang begitu besar keinginannya untuk menjadi seorang tentara. dan aku mau dia berhasil. dulu aku ingin menjadi dokter hanya saja aku merasa takut dengan biaya, sebenarnya kalau aku tega aku bisa saja ngotot masuk kedokteran tapi aku tidak mau seperti itu. namun aku dan adikku berbeda, keiinginan dia nampak lebih besar dariku dan adikku benar-benar menekuni bidang tersebut, maka aku mau tidak mau harus mendukung apapun yang dilakuakan oleh ibuku untuk memperjuangkan cita-cita adikku. termasuk menjual benda yang bernilai luar biasa tak ternilai kenangannya. dalam hal ini IKHLAS adalah hal yang terus menerus harus aku pelajari sejak perginya ayahku hingga saat ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

feel free to leave comment :)